Memancing di Kali Jakarta masih menjadi pemandangan nyata di sejumlah sudut ibu kota. Di tengah laju pembangunan, deretan gedung pencakar langit, dan kampanye lingkungan yang terus digaungkan, sebagian warga Jakarta justru menggantungkan kebutuhan pangan harian mereka dari aliran sungai yang tercemar. Aktivitas ini bukan sekadar hobi, melainkan bentuk perjuangan ekonomi demi menyambung hidup.
Fenomena tersebut memperlihatkan sisi lain Jakarta—kota megapolitan yang menyimpan ketimpangan sosial dan persoalan lingkungan yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Memancing di Kali Jakarta Jadi Pilihan Terakhir Warga
Bagi sebagian masyarakat berpenghasilan rendah, memancing di Kali Jakarta menjadi alternatif untuk mendapatkan lauk pauk tanpa harus mengeluarkan uang. Ikan hasil tangkapan biasanya langsung dibawa pulang untuk dikonsumsi bersama keluarga.
Warga yang tinggal di bantaran kali mengaku sudah terbiasa memancing sejak bertahun-tahun lalu. Meski mengetahui kondisi air yang tidak layak, keterbatasan ekonomi membuat mereka tak memiliki banyak pilihan.
“Kalau beli ikan di pasar mahal. Di sini masih ada ikan, walaupun kecil-kecil,” ujar seorang warga yang kerap memancing di Kali Ciliwung.
Kondisi Air Kali Jakarta Semakin Memprihatinkan

Tingkat Pencemaran Kali Jakarta
Kondisi air sungai di Jakarta dikenal sangat tercemar. Limbah rumah tangga, sampah plastik, hingga sisa bahan kimia industri terus mengalir tanpa pengolahan maksimal. Warna air keruh kehitaman dan bau menyengat menjadi ciri khas sebagian besar kali di ibu kota.
Aktivitas memancing di Kali Jakarta berlangsung di tengah paparan zat berbahaya yang berisiko bagi kesehatan manusia maupun ekosistem sungai.
Jenis Limbah yang Mencemari
Beberapa jenis pencemar yang umum ditemukan meliputi:
-
Limbah deterjen dan sabun
-
Minyak bekas rumah tangga
-
Sampah organik dan non-organik
-
Limbah cair industri skala kecil
Kondisi ini menyebabkan kualitas air jauh di bawah standar aman konsumsi.
Risiko Kesehatan dari Ikan Kali Jakarta
Mengonsumsi ikan hasil memancing di Kali Jakarta berpotensi membawa dampak kesehatan jangka panjang. Kandungan logam berat dan bakteri patogen dapat terakumulasi dalam tubuh ikan.
Ancaman Penyakit
Beberapa risiko yang mungkin timbul antara lain:
-
Gangguan pencernaan
-
Infeksi kulit
-
Keracunan logam berat
-
Penurunan sistem imun
Meski demikian, kesadaran akan bahaya ini sering kali kalah oleh kebutuhan perut yang harus segera terisi.
Alasan Warga Tetap Memancing di Kali Jakarta
Faktor Ekonomi
Kenaikan harga bahan pangan membuat protein hewani semakin sulit dijangkau. Memancing di Kali Jakarta dianggap solusi paling murah.
Akses Terbatas ke Bantuan Sosial
Tidak semua warga bantaran kali terdata sebagai penerima bantuan sosial. Akibatnya, mereka harus mencari cara sendiri untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Tradisi Turun-Temurun
Bagi sebagian warga, memancing di kali sudah menjadi kebiasaan sejak lama. Aktivitas ini diwariskan secara turun-temurun.
Jenis Ikan yang Masih Ditemukan di Kali Jakarta

Meskipun tercemar, beberapa jenis ikan masih dapat ditemukan, seperti:
-
Ikan sapu-sapu
-
Ikan mujair
-
Ikan lele liar
-
Ikan nila kecil
Ikan-ikan tersebut dikenal mampu bertahan di lingkungan dengan kadar oksigen rendah.
Upaya Pemerintah Menangani Pencemaran Kali
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menggulirkan berbagai program normalisasi dan naturalisasi sungai. Tujuannya untuk mengurangi pencemaran dan meningkatkan kualitas air.
Namun, hingga kini, dampaknya belum sepenuhnya dirasakan oleh warga yang masih menggantungkan hidup dari memancing di Kali Jakarta.
Pandangan Pakar Lingkungan

Para ahli lingkungan menilai bahwa fenomena ini mencerminkan dua persoalan besar: pencemaran lingkungan dan ketimpangan sosial.
Menurut mereka, solusi tidak cukup hanya dengan membersihkan sungai, tetapi juga:
-
Peningkatan kesejahteraan warga
-
Akses pangan murah dan sehat
-
Edukasi risiko kesehatan
Baca juga : Ibunda Luna Maya Tetap Aktif di Usia 80 Tahun, 9 Inspirasi Hidup Sehat yang Membentuk Gaya Hidup Luna Maya
Dilema Antara Kebutuhan dan Keselamatan
Bagi warga, memancing di Kali Jakarta adalah pilihan sulit. Mereka sadar akan risiko, namun kebutuhan sehari-hari memaksa untuk tetap melakukannya.
“Kalau tidak begini, kami mau makan apa?” ungkap seorang ibu rumah tangga di kawasan Jakarta Timur.
Potret Ketimpangan di Tengah Kota Modern
Fenomena ini menjadi ironi di tengah Jakarta yang terus berkembang sebagai pusat ekonomi nasional. Gedung mewah berdiri berdampingan dengan warga yang masih bergantung pada sungai tercemar.
Memancing di Kali Jakarta menjadi simbol ketahanan hidup sekaligus cermin ketidakmerataan kesejahteraan.
Harapan Warga Bantaran Kali
Warga berharap pemerintah:
-
Membersihkan sungai secara menyeluruh
-
Memberikan alternatif mata pencaharian
-
Menyediakan bantuan pangan berkelanjutan
Tanpa solusi nyata, aktivitas memancing di kali akan terus berlangsung.
Kesimpulan
Memancing di Kali Jakarta bukan sekadar aktivitas mencari ikan, melainkan cerminan perjuangan hidup masyarakat marginal di ibu kota. Di tengah air yang tercemar, mereka bertaruh dengan kesehatan demi memastikan keluarga tetap makan.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa pembangunan kota harus berjalan seiring dengan keadilan sosial dan perlindungan lingkungan. Selama kebutuhan dasar belum terpenuhi secara merata, sungai-sungai Jakarta akan terus menjadi sumber penghidupan—meski penuh risiko.
